
Ketika Guru Disebut Beban Perspektif Komunikasi Pendidikan
Oleh: Muhamad Hanif Fuadi, S.Kom.I., M.Sos. (Dosen KPI INU Tasikmalaya).
Ucapan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebut guru sebagai “beban negara” sempat menjadi sorotan publik. Wajar jika pernyataan itu memicu reaksi luas, sebab guru bukan sekadar pos anggaran dalam tabel fiskal, melainkan aktor utama yang melahirkan generasi penerus bangsa. Kata-kata yang diucapkan pejabat publik bukan hanya informasi, tetapi juga pesan yang membentuk persepsi. Dari sudut komunikasi, narasi “beban” dapat menimbulkan kesan negatif dan menurunkan martabat guru di mata masyarakat.
Guru dalam Framing Fiskal
Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani bahwa belanja negara untuk gaji guru merupakan “beban” fiskal memicu perdebatan. Memang benar anggaran pendidikan besar, tetapi masalah muncul ketika angka itu diposisikan sebagai beban, bukan investasi. Dalam komunikasi publik, bahasa pejabat negara sangat berpengaruh membentuk opini masyarakat.
Riset terkini justru menunjukkan sebaliknya. Studi komprehensif menemukan korelasi positif antara alokasi dana untuk gaji guru, pengembangan profesional, dan hasil pendidikan. Sekolah yang mengalokasikan dana secara strategis untuk guru cenderung menghasilkan kualitas pendidikan yang lebih baik, bahkan di lingkungan dengan sumber daya terbatas (Sheng, 2023).
Lebih jauh, framing fiskal yang menempatkan guru sebagai “beban” dapat mengurangi persepsi publik terhadap pentingnya profesi guru sebagai motor pembangunan (Sheng, 2023). Studi di Amerika Serikat pun memperlihatkan hal serupa: meski daerah miskin menghadapi dilema fiskal, investasi pendidikan tetap dipandang strategis untuk memperkuat masyarakat dan mengurangi ketimpangan (Simms, 2023).
Alih-alih menempatkan guru sebagai pilar pembangunan bangsa, framing ini menurunkan posisi guru dalam wacana publik. Guru seolah menjadi angka di balik APBN, bukan penggerak utama dalam membangun sumber daya manusia.
Komunikasi Pendidikan dan Martabat Guru
Dalam komunikasi pendidikan, martabat guru lahir dari kepercayaan dan penghargaan. Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi komunikator nilai, karakter, dan pengetahuan yang membentuk ekosistem belajar yang sehat. Komunikasi interpersonal yang positif menunjukkan kepedulian, kejelasan, kredibilitas, dan konfirmasi terbukti meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa (Mayasari et al., 2024). Kepercayaan yang dibangun lewat empati dan komunikasi terbuka mendorong resiliensi serta keberhasilan akademik (Subedi, 2025). Sementara penghargaan menegaskan martabat guru sebagai teladan moral, pembangun dialog, dan pencipta ruang inklusif (Stikholmen et al., 2024; Pae, 2024;).
Di titik inilah ucapan pejabat publik menjadi penting. Kata-kata yang menihilkan peran guru berpotensi melemahkan ethos mereka. Guru yang merasa direduksi menjadi sekadar “beban” bisa kehilangan motivasi dan rasa percaya diri dalam berkomunikasi di ruang kelas maupun ruang publik.
Padahal, pemerintah seharusnya membangun empowering discourse narasi yang memberdayakan. Komunikasi publik yang baik adalah yang mampu memberi energi, memotivasi, dan meneguhkan legitimasi sosial profesi guru. Bukan sebaliknya, menurunkan martabat dengan kata-kata yang berpotensi menyinggung perasaan jutaan pendidik di seluruh Indonesia.
Implikasi Sosial
Narasi negatif seperti “guru sebagai beban” bukan sekadar pilihan kata. Ia membawa implikasi sosial dan komunikasi yang luas. Cara pemerintah menyampaikan pesan, apalagi bila diperkuat media, bisa memengaruhi cara publik menilai profesi guru. Dari sosok yang seharusnya dilihat sebagai pilar pembangunan, guru justru bisa tergeser menjadi sekadar angka dalam laporan anggaran.
Penelitian menegaskan bahwa persepsi, komunikasi, dan kompetensi sosial sangat menentukan dinamika pendidikan. Dalam konteks opini publik, narasi yang tidak konstruktif berisiko menurunkan penghargaan masyarakat terhadap profesi guru, menggeser persepsi dari “investasi bangsa” menjadi “beban negara” (Zaripov, 2023). Melalui efek mediatization dan information-psychological impact, dampak sosial dari narasi negatif ini bisa menyebar luas (Zaripov, 2023).
Dampak berikutnya menyentuh ranah psikologis. Guru yang merasa tidak dihargai bisa kehilangan motivasi, harga diri, bahkan kesejahteraan psikologisnya. Situasi ini berpotensi memicu communication breakdown di kelas, menurunkan kualitas interaksi guru-murid, dan menghambat pembelajaran (Hliadyk, 2024; Hliadyk et al., 2024). Padahal, kompetensi komunikasi dan empati adalah kunci menjaga hubungan positif di ruang pendidikan.
Tak kalah penting, narasi yang timpang juga berisiko memperlebar communication gap antara pemerintah dan guru. Ketidakselarasan bahasa bisa menurunkan kepercayaan dan memicu resistensi sosial terhadap kebijakan pendidikan (Gómez et al., 2019; Zaripov, 2023). Penelitian bahkan menegaskan, dialog egaliter dan partisipasi semua pihak terbukti mampu mendorong perubahan sosial dan mengurangi resistensi (Gómez et al., 2019).
Narasi negatif soal guru bukan hanya soal kata, melainkan soal masa depan pendidikan. Komunikasi yang konstruktif, penghargaan sosial, dan dialog partisipatif adalah kunci agar guru tetap ditempatkan sebagai investasi bangsa, bukan beban negara.
Narasi Alternatif yang Membangun
Apa yang seharusnya dilakukan pemerintah? Pertama, mengemas komunikasi publik dengan menekankan guru sebagai aset pembangunan manusia, bukan beban fiskal. Narasi ini penting agar masyarakat melihat bahwa investasi pendidikan adalah jalan panjang untuk mencetak generasi unggul. Kedua, menggunakan pendekatan komunikasi edukatif. Pemerintah tetap bisa bicara soal kebutuhan efisiensi dan transparansi anggaran, tetapi harus diiringi dengan pengakuan atas kontribusi guru. Misalnya, daripada mengatakan “guru adalah beban anggaran”, lebih baik menekankan bahwa “investasi pada guru besar, karena perannya sangat vital, maka perlu dikelola secara efektif dan transparan”. Ketiga, media massa dan kalangan akademisi harus hadir sebagai penyeimbang wacana. Media tidak cukup hanya mengutip pernyataan pejabat, tetapi perlu memberi ruang bagi perspektif guru, praktisi pendidikan, dan masyarakat. Akademisi pun berperan mengkritisi narasi yang menyudutkan guru, sembari menawarkan kerangka komunikasi publik yang lebih konstruktif.
Menempatkan Guru pada Panggung Kehormatan
Sejarah bangsa ini mencatat peran besar guru, bukan hanya dalam mengajar, tetapi juga dalam perjuangan sosial dan kebangsaan. Dari ruang kelas desa hingga kampus besar, guru adalah ujung tombak pembangunan manusia Indonesia. Mengabaikan atau merendahkan peran mereka dengan istilah “beban” jelas bukan pilihan bijak, apalagi di tengah tantangan dunia pendidikan yang kian kompleks.
Sebagai bangsa, kita perlu menempatkan guru pada panggung kehormatan. Pemerintah, media, dan masyarakat perlu membangun narasi yang menegaskan bahwa guru adalah investasi jangka panjang. Ya, anggaran pendidikan besar. Tetapi investasi inilah yang menentukan arah bangsa di masa depan.
Komunikasi publik yang dengan tinjauan pendidikan mestinya menginspirasi, bukan melukai. Kata-kata pejabat negara seharusnya menjadi penopang semangat dan menyalakan harapan, bukan sumber kekecewaan. Karena itu, terutama para pemangku kebijakan, berhati-hati dalam memilih kata. Sebab dalam komunikasi, kata-kata bukan sekadar bunyi, melainkan cermin cara kita memandang masa depan bangsa.
References
Simms, A. (2023). Fiscal Fragility in Black Middle-Class Suburbia and Consequences for K–12 Schools and Other Public Services. RSF, 9, 204 – 225. https://doi.org/10.7758/RSF.2023.9.2.09
Sheng, Y. (2023). Strategic Financial Investment in Education: Correlating Funding with Quality Outcomes in School. Advances in Vocational and Technical Education. https://doi.org/10.23977/avte.2023.051201
Subedi, T. (2025). Building Trust for Resilience Development Among High School Seniors. Brixton Scholarly Review. https://doi.org/10.3126/bsr.v2i1.78170
Mayasari, I., Shaleha, D., & Manurung, A. (2024). Peran Komunikasi Interpersonal dalam Menciptakan Keharmonisan Antar Guru dalam Lingkungan Kerja. ALFIHRIS : Jurnal Inspirasi Pendidikan. https://doi.org/10.59246/alfihris.v3i1.1158
Stikholmen, T., Nåden, D., & Alvsvåg, H. (2024). Promoting dignity in nursing education – How educators manoeuvre to promote dignity.. Journal of professional nursing : official journal of the American Association of Colleges of Nursing, 50, 111-120.
Pae, K. (2024). Interdependence of Dignity: Rethinking the Relationship between Students and Teachers. In/Outside: English Studies in Korea. https://doi.org/10.46645/inoutsesk.56.9
Bezdukhov, V., Петрович, Б., Bezdukhov, A., & Владимирович, Б. (2020). The value of human dignity as a form of moral regulation of teacher’s actions and deeds, 9, 272-277. https://doi.org/10.17816/SNV202094301
Gómez, A., Padrós, M., Rios, O., Mara, L., & Pukepuke, T. (2019). Reaching Social Impact Through Communicative Methodology. Researching With Rather Than on Vulnerable Populations: The Roma Case. Frontiers in Education. https://doi.org/10.3389/feduc.2019.00009
Hliadyk, B. (2024). SCIENTIFIC AND THEORETICAL ANALYSIS OF THE FORMATION OF SOCIOCOMMUNICATIVE COMPETENCE OF FUTURE SPECIALISTS IN THE SOCIAL SPHERE. Baltic Journal of Legal and Social Sciences. https://doi.org/10.30525/2592-8813-2024-1-18
Hliadyk, B., Petryshyn, L., Kulchytskyi, V., & Kulchytskyi, T. (2024). THE ESSENCE OF SOCIOCOMMUNICATIVE COMPETENCE OF FUTURE SPECIALISTS IN THE SOCIAL SPHERE. Educational Analytics of Ukraine. https://doi.org/10.32987/2617-8532-2024-1-34-45
Fedorchuk, V., & Voloshchuk, M. (2022). SOCIO-PSYCHOLOGICAL TRAINING AS MEANS OF COMMUNICATIVE COMPETENCE FORMATION IN THE INCLUSIVE EDUCATIONAL ENVIRONMENT. Inclusion and Society. https://doi.org/10.32782/inclusion-society-2022-1-9
Zaripov, R. (2023). Communicative, psychological and information-psychological impact in mass communication. Scientific Research and Development. Modern Communication Studies. https://doi.org/10.12737/2587-9103-2023-12-3-73-80
Tinggalkan Komentar