
Tasikmalaya, Kovinut.com – Institut Nahdlatul Ulama (INU) Tasikmalaya menggelar Workshop Tri Dharma Perguruan Tinggi pada Rabu (6/8/2025), bertempat di Aula Kampus INU Tasikmalaya. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh dosen dan pemangku kepentingan lainnya sebagai upaya penguatan pemahaman serta implementasi nilai-nilai Tri Dharma di lingkungan kampus.
Workshop ini menghadirkan pemateri dari berbagai latar belakang akademik dan praktisi, yang membahas secara mendalam aspek pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat — tiga pilar utama yang menjadi fondasi keberadaan perguruan tinggi di Indonesia.
Rektor INU Tasikmalaya, Dr. KH. Pepep Puad Muslim, M.SI, dalam sambutannya menyampaikan bahwa workshop ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari komitmen institusi untuk memperkuat sinergi dan kualitas pelaksanaan Tri Dharma.
“Workshop ini akan bersifat berkelanjutan. Tidak hanya berhenti pada kegiatan hari ini, namun akan terus dikembangkan dalam berbagai bentuk ke depan. Acara seperti ini sangat penting untuk penguatan kapasitas dosen dan peningkatan mutu institusi secara keseluruhan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan berkelanjutan dalam penguatan Tri Dharma akan melahirkan dampak yang lebih nyata, terukur, dan relevan bagi masyarakat luas.
“Harapan kami, Tri Dharma tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar menjadi napas kehidupan akademik yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya.
Salah satu narasumber dalam workshop ini, Dr. H. Muhammad Zaki Mubaraq, M.Pd., menekankan perbedaan mendasar antara peran guru dan dosen. Menurutnya, dosen memiliki tanggung jawab yang lebih kompleks.
“Jika guru hanya berfokus pada aspek pendidikan, maka dosen harus menjalankan Tri Dharma secara utuh: mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat. Ketiganya harus berjalan seimbang agar peran dosen benar-benar dirasakan kontribusinya bagi kemajuan bangsa,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam merespons dinamika masyarakat dan industri.
“Perguruan tinggi harus mampu melihat kebutuhan industri dan masyarakat. Oleh karena itu, kampus harus hadir sebagai agen perubahan (agent of change),” tegasnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, K.H. Anwar Nashori, S.Ag., M.SI, menyoroti pentingnya relasi yang harmonis antara akademisi dan masyarakat.
“Perguruan tinggi harus mampu membangun hubungan yang dinamis dengan lingkungan sekitar. Akademisi harus selalu dua langkah lebih maju agar dapat menjadi bagian dari solusi atas berbagai permasalahan masyarakat,” ungkapnya.
Workshop ini diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung aktif dan interaktif, mencerminkan antusiasme para dosen dalam memperkuat pelaksanaan Tri Dharma secara holistik di lingkungan INU Tasikmalaya.
Penulis : Lisna Dewi Nuarini Mahasiswa KPI INU Tasikmalaya
Tinggalkan Komentar